Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 08, 2009

Adaptasi

Anda masih ingat pelajaran kelas 1 SMP tentang hukum Newton?
Salah satu Hukum Newton mengatakan bahwa suatu benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu, akan cenderung untuk terus bergerak apabila dia diperlambat. Kita juga memiliki kecenderungan ini, kita yang sudah enak dan nyaman di suatu tempat, posisi, atau jabatan dan pekerjaan tertentu, cenderung akan memilih untuk tetap berada di posisi itu sekalipun ada sesuatu yang membuat kita untuk pindah dari sana.
Karenanya manusia dibekali juga dengan kemampuan beradaptasi, yaitu kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Kemampuan beradaptasi inilah yang belakangan ini sedang saya pergunakan lagi. Karena saya untuk kesekian kalinya pindah kerja. Kali ini saya bekerja sebagai seorang dokter bangsal di rumah sakit, yang salah satunya bertanggung jawab atas keluhan pasien di bangsal dan ICU. Bekerja di lingkungan Rumah Sakit bukan kali yang pertama buat saya. Sewaktu program kemitraan dulu, saya juga bekerja di salah satu rumah sakit negeri di solo, setelah lulus, saya bekerja sebagai dokter jaga IGD disalah satu RSIA di Sleman, Yogyakarta. Ternyata, setting pekerjaan saya yang selama 2 tahun ini bersifat di luar rumah sakit, membuat saya harus bekerja ekstra keras untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan di Rumah Sakit. Sangat-sangat berbeda, itulah hal yang saya temukan dan pelajari.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga akan menemukan banyak hal yang membuat kita harus beradaptasi. Selain pekerjaan baru, rumah baru, kendaraan baru, bahkan pengantin baru akan membuat kita beradaptasi. Yang jadi masalah adalah, apakah kita siap untuk beradaptasi? apakah kita siap untuk berubah? karena menurut seorang pakar, kita harus selalu siap berubah, karena tidak ada yang bersifat kekal di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri.

Beradaptasi memang sulit, berubah memang tidak mudah, namun akan banyak kita temukan hal-hal yang menarik ketika kita mau berubah. Tentunya jika perubahan itu kearah yang lebih baik akan lebih sulit. Tidak jarang kita justru akan menghadapi tantangan yang sangat berat dari orang-orang yang sudah merasa nyaman dengan keadaan yang dijalaninya saat ini. Jadi, beradaptasi? yuuuk....

Rabu, Februari 18, 2009

Asyiknya kecanggihan Teknologi

Teknologi, oh teknologi...Berkembang dengan sangat cepatnya. Mengalahkan pertumbuhan jamur di musim hujan. Atau mungkin malah sama dengan pertumbuhan bakteri di dalam inkubator. Yang terutama bikin gedeg-gedeg kepala adalah IT. Bayangkan saja dengan teknologi ini kita sekarang bisa melakukan banyak hal. Dari yang sederhana seperti; email, chatting, ikutan situs sosial, sampai ke yang agak sophisticated seperti; bikin website sendiri dan bikin uang dari website itu, atau bahkan ikutan bikin blog pribadi kaya orang-orang. Suatu hal yang beberapa tahun lalu sulit kita lakukan, bahkan mungkin kita bayangkan, sekarang menjadi terwujud dengan mudahnya.

Sebagai contoh, saya bisa bertemu dengan teman SD saya dulu secara tidak sengaja setelah browsing di FS. Suatu hal yang buat saya surprise sekali, karena saya sudah hampir 16 tahun tidak berjumpa dengannya. Mungkin jika didunia ini tidak pernah ditemukan internet, akan sangat sulit bagi kita melakukan hal-hal seperti itu. Mungkin, FS dan Facebook juga bisa digunakan polisi untuk menemukan jejak seorang bandit yang menjadi buronan (ngapain juga seorang bandit nekat banget ikutan bikin profile di FB or FS?)

Jumat, Januari 16, 2009

Tiga dokter ikut tenggelam di Perairan Papua

Itulah headline berita yang saya baca dari KOMPAS pagi ini. Keganasan alam Papua kembali menelan korban, tiga dokter yaitu dr. Hendy prakoso, dr. Boyke Mawoka, dan dr. Wendyansyah Sitompul SpOG menjadi korban yang termasuk diantara 27 korban tenggelamnya kapal Risma Jaya akibat kerusakan (lambung bocor)setelah dihantam ombak besar di perairan Muara kali Aswet distrik Agast Kabupaten Asmat Propinsi Papua pada tanggal 13 Januari 2009.


Jenazah dr. Wendy ditemukan kamis (15/1) pukul 14.00 waktu setempat. Sedangkan dua dokter yang lain sampai saat ini belum ditemukan. Para dokter yang menjadi korban tersebut dalam perjalanan untuk program Save Papua di pedalaman Papua. Mereka menumpang kapal barang setelah bandara Agast yang biasanya digunakan untuk penerbangan di daerah tersebut rusak akibat gempa beberapa waktu yang lalu. Perjalanan Timika ke Asmat membutuhkan waktu 5 jam, namun kapal telah tenggelam ketika mendekati Agast.

Kisah meninggal dan hilangnya dokter dalam melaksanakan tugas ini menambah daftar dokter yang hilang atau meninggal dalam tugas di Papua.Kurang lebih satu tahun yang lalu tepatnya 9 Juni 2007 seorang dokter PTT yang bertugas di Puskesmas Arso III yaitu dr. Muhammad Haris juga meninggal karena kecelakaan di Papua
Kurang lebih satu bulan sejak kejadian itu, kembali satu dokter PTT meninggal dalam tugas di Papua Barat, beliau adalah dr. Erina Natania Nazarudin. Dokter Erina meninggal akibat mobil ambulance yang dikendarainya masuk ke jurang sedalam 20 meter di jalur Fakfak-Kokas Papua Barat pada Minggu, 15 juli 2007 .

Memang kondisi alam di Papua tergolong masih sulit diprediksi, cuaca dapat berubah sewaktu-waktu, ditambah kondisi infrastruktur yang masih sangat minim menambah parah kondisi di Papua. Masih banyak daerah pedalaman di Papua yang hanya bisa dijangkau melalui jalur udara, atau perjalanan melalui sungai yang makan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Kondisi jalur darat juga banyak yang belum memadai kalau tidak bisa dikatakan rusak parah, terutama yang menghubungkan antara kota dengan daerah terpencil seperti Asmat.

Kita mengucapkan duka dan simpati yang sedalam-dalamnya atas musibah ini, para dokter ini adalah sedikit dari dokter yang mau berkorban dengan bersedia bertugas di daerah terpencil seperti pedalaman Papua. Tentunya kejadian ini tidak menyurutkan langkah dokter-dokter yang lain untuk ditugaskan ke Papua oleh Pemerintah. Dan semoga pemerintah kembali memperhatikan nasib para dokter yang telah bersedia ditugaskan di darah terpencil seperti pedalaman ppapua dengan lebih memperhatikan kesehatan dan keselamatan para dokter ini di lapangan.

Sabtu, Januari 10, 2009

Lawak (Comedy) Nostalgia

Hari ini, setelah selesai melakukan beberapa pekerjaan, saya iseng-iseng membuka account multiply saya. Disana saya menemukan dua lawakan dari warkop dari era tahun 70-80 an. Lawakan yang walaupun sudah saya dengarkan berkali-kali tapi tetap membuat saya tertawa terkekeh. Lawakan yang termasuk cerdas, bahkan masih jauh dari slapstik atau pornoaksi seperti film-film warkop era 90an.

Konon, di awal berdirinya, warkop adalah sekelompok pemuda kuliahan yang sering nongkrong dan mengisi acara warung kopi di radio Prambors. Kelompok ini terdiri dari Dono, Kasino, Indro, dan Nanu. Acara ini begitu digemari masyarakat pada waktu itu, sehingga mereka sempat membuat beberapa rekaman yang berisi lawakan acara warung kopi. Selanjutnya, kelompok ini mengubah namanya menjadi Warkop DKI. Karena Nanu meninggal dunia dan warkop tidak menemukan pengganti yang tepat.

Waktu demi waktu berlalu, warkop dengan lawakannya telah menjadi legenda lawak di tanah air. sampai sekarangpun, film - film warkop era 70-80 an tetap saya tonton dengan terkekeh-kekeh. Bahkan beberapa adegan dan kata-katanya yang terkenal saya hafal seperti "Jangankan mobil, Jakarta kalau perlu saya beli" di film "Gengsi Dong". Lumayan untuk melepaskan stress. Kalau anda ingin ikut mendengarkan, bisa di klik disini


Jumat, Januari 09, 2009

Vertigo, oh vertigo......

Entah kenapa pada trip ini saya sudah berhadapan dengan dua orang yang mengeluh puyeng-puyeng alias vertigo. Yang pertama tanggal 5 lalu, saat sedang konsen ngerjakan laporan tiba-tiba dikejutkan dering telfon di klinik. Telfon itu mengabarkan kalau di atas (ruang office) ada seseorang yang mengeluh pusing dan muntah-muntah. Karena saya pikir orangnya masih bisa jalan ke klinik, saya minta yang nelfon untuk mengantarkan ke klinik supaya bisa diperiksa dengan alat yang ada di klinik.



Telfon berdering lagi, kali ini yang nelfon masih sama. Dia menyarankan saya untuk segera naik ke atas karena pasiennya ga mungkin turun ke bawah, pusing ga bisa bergerak. Saya pun segera naik dengan membawa perlengkapan dan obat-obatan yang sekiranya perlu. Tiba di office, saya berhadapan dengan seseorang yang sudah dibaringkan diatas dua kursi yang di letakkan berhadapan. "Kayaknya sakitnya serius", kata saya dalam hati. Beberapa orang sudah ambil tindakan, ada yang ngerokin sambil berkomentar, "Ini angin duduk namanya pak". Saya agak bingung juga dengerinnya, "Harusnya ada angin berdiri, jongkok, tiarap dan sebagainya", bisik saya dalam hati.

"Segera ambil tindakan", pikir saya. Tap, tap, tap, pengukur tekanan darah alias TENSI segera terpasang. Untungnya sudah otomatis dan dilengkapi juga dengan bacaan nadi. Sementara alat mengukur, saya ukur temperaturnya, yang untungnya juga sudah digital sehingga tidak perlu nunggu lama. Hasil pertama pengukur tekanan darah muncul, saya kaget karena tulisan yang terbaca error. Artinya ada yang salah, entah itu bacaannya atau penempatan mansetnya. Karena berfikir human error, saya ulangi pemeriksaan dengan terlebih dahulu membenahi letak manset. Hasilpengukuran kedua muncul dan kembali membuat kaget. Bacaannya menunjukkan 235/152 mmHg. Wah, wah, tampaknya ini yang bikin si bapak kliyengan. Pemeriksaan lain menunjukkan hasil yang normal. Pemeriksaan fisik juga tidak ada kelainan signifikan.

Prosedur selanjutnya lapor ke alarm center. Ini harus selalu dilakukan apabila kita berhadapan dengan kasus gawat darurat di rig. Konsultasi dengan dokter di sana diperoleh kesimpulan bahwa si bapak mengalami Hypertency urgency. Dan tindakan yang harus dilakukan adalah menurunkan tekanan darahnya segera, tapi tidak terlalu progressif alias tidak boleh melebihi 20%. Saya dengan singkat menghitung, kalau 20%, berarti hanya boleh diturunkan sekitar 46 mmHg.

Rabu, Desember 31, 2008

Ini baru motivasi

Alkisah ada seorang pekerja pada sebuah pabrik yang mendapatkan tugas
(shift) malam, jam 24.00 - 07.00. Setiap hari si pekerja ini berangkat
kerja melalui jalan raya dengan jarak +/- 2 km. Pada suatu hari ia baru
tahu dari seorang teman bahwa ia bisa menghemat jarak perjalanan sampai
dengan setengah perjalanan (1km) yaitu dengan melewati jalan setapak di
tengah komplek pemakaman.

Nah, mulai saat itu si pekerja selalu berangkat kerja melalui jalan
setapak tersebut walaupun dalam hati kecilnya ada sedikit perasaan
takut. Malam pertama perjalanan tidak terjadi apa-apa, begitu pula malam
kedua dan seterusnya, sehingga si pekerja sudah sangat terbiasa dan
menikmati sekali perjalanan melalui jalan setapak tersebut.

Pada suatu hari si pekerja tidak mengetahui bahwa pada siang harinya
telah di gali sebuah liang lahat tepat ditengah jalan setapak tersebut
dan sore hari turun hujan sangat lebat. Karena kondisi penerangan di
areal pemakaman tersebut sangat minim, maka saat si pekerja seperti
biasa berjalan melalui jalan setapak tersebut.... tiba-tiba dengan
sangat terkejut ia terperosok ke dalam liang lahat tadi. Tokoh kita ini
berusaha sekuat tenaga untuk bisa keluar dari liang lahat yang basah
tersebut, ia mencakar-cakar dinding liang lahat dan melompat-lompat
selama hampir setengah jam, tetapi ia tidak berhasil keluar. Akhirnya si
pekerja tersebut kelelahan dan memilih untuk istirahat saja di dalam
liang lahat sambil menunggu kalau-kalau ada orang yang lewat atau
kalaupun tidak ada ia akan menunggu sampai pagi tiba.

Karena kelelahan, si pekerja pun akhirnya tertidur dalam liang lahat.
Nah, saat tertidur itulah ada seorang pemabuk yang melewati jalan
setapak tersebut, dan ia pun bernasib sama dengan tokoh kita. Si pemabuk
terperosok pula ke dalam liang lahat, sama persis seperti yang dilakukan
oleh si pekerja, ia berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari liang
lahat, ia mencakar - cakar dinding liang lahat dan melompat-lompat
sambil berteriak-teriak. Mendengar adanya keributan di sekitarnya, si
tokoh kita terbangun dan melihat si pemabuk yang sedang berusaha keras
untuk keluar dari liang lahat.

Pada saat itu, si tokoh kita berdiri dan mengulurkan tangannya lalu
menepuk pundak si pemabuk dan mengatakan " Kamu tidak akan bisa keluar
dari sini", dan saat itu pula si pemabuk melompat dan berhasil keluar!
Itulah yang dinamakan motivasi.

Saya sangat senang sekali menceritakan kembali cerita tersebut yang saya
ambil dari buku "Over The Top" karangan Zig Ziglar dan tidak bosan untuk
terus berbagi dengan teman-teman semua. Semoga bermanfaat.